Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, baru saja meluncurkan DGX Spark, superkomputer AI berukuran mini namun dengan kekuatan luar biasa. Produk ini menjadi superkomputer AI terkecil di dunia, dan menariknya, solutionforcomputer menilai inovasi ini mendorong kemajuan pengembang dan peneliti AI.
Dengan DGX Spark, pengguna bisa melatih model AI canggih di meja kerja tanpa server cloud. Perangkat mini 15 x 15 x 5 cm dan 1,2 kg ini mampu menangani 200 miliar parameter, biasanya hanya bisa dicapai pusat data besar.
DGX Spark membawa performa kelas data center dalam bentuk yang sangat ringkas. Di dalamnya tertanam chip Grace Blackwell Superchip GB10, gabungan CPU dan GPU terbaru dari Nvidia yang dirancang khusus untuk AI.
Dari segi kinerja, perangkat ini sanggup melakukan hingga 1 petaflop komputasi, atau setara 1.000 triliun operasi per detik. Selain itu, DGX Spark dilengkapi 128 GB unified memory yang mempercepat aliran data antara CPU dan GPU, serta penyimpanan SSD NVMe hingga 4 TB.
DGX Spark menyediakan Ethernet 200 Gb/s dan NVLink-C2C untuk transfer data cepat, serta DGX OS, turunan Ubuntu Linux yang dioptimalkan untuk GPU dengan CUDA library dan Nvidia NIM microservices.
Menariknya, seluruh performa tinggi tersebut hanya membutuhkan daya 240 watt—cukup untuk stopkontak rumah biasa. Artinya, siapa pun kini bisa memiliki superkomputer AI pribadi tanpa perlu sistem listrik atau pendingin rumit seperti di pusat data.
Dengan ukuran kecil dan konsumsi daya rendah, DGX Spark menjadi pilihan ideal bagi peneliti, mahasiswa, dan startup yang ingin bereksperimen dengan AI tingkat lanjut secara mandiri.
Nvidia membanderol DGX Spark mulai 3.999 dolar AS atau sekitar Rp 66,3 juta. Meski terlihat mahal awalnya, dibandingkan GPU profesional seperti RTX Pro 6000 (Rp 149 juta) atau Nvidia H100 (Rp 414 juta), DGX Spark lebih terjangkau.
Meski tak sekuat chip kelas data center, DGX Spark tetap menghadirkan komputasi AI canggih dengan biaya lebih hemat. Menurut The Register, GPU-nya setara RTX 5070, namun unggul berkat 128 GB unified memory dibanding 12 GB pada RTX 5070.
Dengan hadirnya DGX Spark, Nvidia berupaya mendemokratisasi komputasi AI. Kini, universitas, startup, hingga individu dapat mengembangkan model AI besar tanpa harus memiliki infrastruktur miliaran rupiah.
Superkomputer mini ini menjadi simbol langkah besar menuju masa depan AI yang lebih inklusif, efisien, dan terjangkau. Baca berita lain di sini.
LG kembali menghadirkan monitor gaming premium melalui LG UltraGear 45GX950A-B, dan dalam ulasan ini dari…
AMD kembali menarik perhatian pasar gaming melalui kemunculan Ryzen 7 5800X3D 10th Anniversary Edition di…
Infinix GT BOOK hadir sebagai laptop gaming modern yang semakin memperkuat posisinya di segmen entry-to-mid…
Perkembangan AI dan transformasi digital membuat kebutuhan perangkat kerja semakin tinggi. Kini, profesional tidak hanya…
Kabar terbaru mengenai GPU entry-level AMD mulai menarik perhatian para penggemar PC, dan platform solutionforcomputer…
AMD Ryzen AI 5 435G mulai menarik perhatian setelah hasil benchmark awalnya tersebar di internet,…